Jumat, 04 Maret 2011

laparascopy kantong empedu


Bedah Laparaskopi meluas ke organ lain 
Monday, April 19, 2010, 10:24 AM - Kesehatan
Posted by Administrator
KEMBANGAN teknologi telah mengantarkan dunia kedokteran, khususnya bedah, kepada efektivitas dan efisiensi. Teknik bedah minimal invasif laparoskopi, misalnya, menjadi alternatif dari bedah konvensional.

Awalnya bedah laparoskopi dilakukan untuk bedah digestif (bedah bagian perut dan saluran pencernaan). Namun, kasus penyakit yang paling sering ditangani dengan teknik itu adalah laparoscopic cholecystectomy (pengangkatan kantong empedu) dan laparoscopic appendectomy (pengangkatan usus buntu yang meradang). Selain itu, bedah laparoskopi juga bisa diterapkan untuk kasus perlengketan usus, tumor usus, obesitas, hernia, dan kelenjar getah bening.

Menurut spesialis bedah saluran cerna dr Errawan R Wiradisuria SpB(K)BD, penderita batu pada kantong empedu biasanya datang dengan keluhan dispepsia (mirip sakit mag), yakni perut kembung, sakit pada ulu hati yang menjalar ke punggung, banyak sendawa, dan banyak buang angin.

''Karena keluhan yang mirip sakit mag itu, pasien biasanya hanya minum obat mag. Namun jika gejalanya terjadi terus-menerus selama tiga bulan, walaupun sudah minum obat-obatan, biasanya pasien diperiksa lebih jauh dengan USG. Dari situ, baru akan ketahuan apakah ada batu pada kantong empedunya,'' kata dr Errawan pada media edukasi tentang bedah minimal invasif (bedah laparoskopi) di Rumah Sakit Internasional Bintaro Jakarta, beberapa waktu lalu.

Jika ada indikasi untuk operasi, lanjutnya, pasien akan dianjurkan untuk operasi, terutama bila memungkinkan operasi laparoskopi. Pasien pertama-pertama akan dijelaskan mengenai penyakitnya, prosedur pengoperasian, risiko, efek-efeknya, dan keuntungan-keuntungannya.

''Jika kondisi pasien ternyata tidak memungkinkan untuk dilakukan bedah laparoskopi, prosedur pengoperasian akan dikonversikan ke bedah konvensional. Konversi bisa terjadi karena dua hal. Pertama, karena riwayat penyakit pasien. Kedua, konversi yang tidak diduga yakni terjadi karena keadaan darurat.

Prosedur

Lebih lanjut, dokter yang bertugas di RS Internasional Bintaro itu menjelaskan prosedur praoperasi laparoskopi hampir sama dengan operasi konvensional. Pasien harus puasa empat hingga enam jam sebelumnya, dibuat banyak buang air besar agar ususnya kempis. Sebelum puasa pun pasien laparoskopi akan diberikan makanan cair atau bubur, makanan yang mudah diserap, tapi rendah sisa, untuk mengurangi jumlah kotoran di saluran cerna. Kemudian pasien akan dibius total.

''Setelah pasien tertidur, tindakan operasi pertama yang dilakukan membuat sayatan di bawah lipatan pusar sepanjang 10 mm, kemudian jarum veres disuntikkan untuk memasukkan gas CO2 sampai batas kira-kira 12-14 milimeter Hg. Dengan pemberian gas CO2 itu, perut pasien akan menggembung. Itu bertujuan agar usus tertekan ke bawah dan menciptakan ruang di dalam perut untuk pengoperasian,'' jelas dr Errawan.

Setelah perut terisi gas CO2, tambahnya, alat trocar dimasukkan. Alat itu seperti pipa dengan klep untuk akses kamera dan alat-alat lain selama pembedahan. Ada empat trocar yang dipasang di tubuh. Pertama, terletak di pusar. Kedua, kira-kira letaknya 2-4 cm dari tulang dada (antara dada dan pusar) selebar 5-10 mm. Trocar ketiga dipasang di pertengahan trocar kedua agak ke sebelah kanan (di bawah tulang iga), selebar 2-3 atau 5 mm. Trocar keempat, bilamana diperlukan, akan dipasang di sebelah kanan bawah, selebar 5 mm.

''Melalui trocar inilah alat-alat, seperti gunting, pisau ultrasonik, dan kamera, dimasukkan dan digerakkan. Trocar pertama berfungsi sebagai 'mata' dokter, yaitu tempat dimasukkannya kamera. Dokter akan melihat organ-organ tubuh kita dan bagian yang perlu dibuang melalui kamera tersebut yang disalurkan ke monitor. Sementara itu, trocar kedua sampai keempat merupakan trocar kerja,'' kata dr Errawan menjelaskan tayangan video yang merekam jalannya operasi pengangkatan batu empedu.

Dalam tayangan video itu pun terlihat bagaimana jarum untuk menjahit organ-organ yang dipotong atau mengalami pendarahan dimasukkan melalui trocar. Selain itu, ada pula klip-klip dari titanium, yang aman dan bisa digunakan sebagai ganti jahitan. Klip itu berfungsi menyambungkan dua bagian yang terpisah.

''Klip dari titanium akan dipasang dalam tubuh secara permanen, seumur hidup. Sebelumnya, kita harus mengatakan kepada pasien dan keluarganya kalau ada benda asing yang akan ditinggalkan di dalam tubuh pasien," jelas dr Errawan.

Bahkan bekas sobekan tersebut, tambahnya, tidak perlu dijahit, dan hanya menggunakan lem yang disebut human skin glue. Masa pulihnya pun lebih cepat, yaitu sekitar tiga hari, pasien sudah diperbolehkan pulang.

Risiko

Operasi laparoskopi, kata dr Errawan, biasanya berlangsung sekitar 20 menit sampai dua jam, tergantung tingkat kesulitan tiap orang. Adapun risiko yang mungkin terjadi ketika operasi berlangsung adalah perlengketan akibat infeksi yang berulang.

Infeksi bisa disebabkan pengobatan yang tidak tuntas sebelum operasi. Sementara itu, perlengketan berarti organ-organ yang menempel harus dipisahkan dan itu bisa mengakibatkan perdarahan.

''Risiko ini bisa berasal dari tiga pihak. Pertama pihak pasien yaitu adanya penyakit atau infeksi yang tidak ditangani secepatnya. Kedua dari pihak dokter yaitu kemampuannya menguasai teknik laparoskopi. Ketiga, faktor alat-alat, termasuk rumah sakit, apakah alat-alat itu sudah rusak atau lama.

Di hadapan para wartawan, dr Errawan mengatakan bedah laparoskopi sebetulnya sudah ada di Indonesia sejak 1991. Pembedahan pertama kali dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Cipto Mangunkusumo. Hingga saat ini, perkembangan alat-alat laparoskopi semakin maju, meliputi penggunaan monitor high definition yang membuat gambar tampak lebih jelas. Ada pula lampu kamera yang terang, tapi tidak panas. Alat pemotong yang digunakan adalah gunting atau pisau ultrasonik yang jika digunakan tidak akan menyebabkan perdarahan.

Soal biaya, ujarnya lagi, prosedur laparoskopi memang lebih mahal daripada bedah konvensional yakni bisa mencapai tiga kali lipat dari biaya bedah konvensional. Hal itu disebabkan teknologi dan alat-alat yang digunakan sudah lebih canggih dan hanya sekali pakai.

''Namun jika dihitung secara keseluruhan sampai biaya perawatan pascaoperasi, biaya yang dikeluarkan hampir sama. Perawatan pascabedah laparoskopi hanya dua sampai tiga hari, sedangkan pada bedah konvensional perawatan penyembuhan pascaoperasi bisa mencapai lima hari sampai seminggu. Ini yang membuat bedah laparoskopi lebih efektif,'' urainya.

Namun, kata dr Errawan, belum semua dokter bedah saluran cerna bisa melakukan prosedur bedah minimal invasif. Bahkan para dokter bedah harus mengikuti pelatihan khusus untuk bisa melakukan bedah laparoskopi. Hingga saat ini, sudah ada sekitar 80 dokter yang sudah bisa melakukan bedah laparoskopi di Indonesia, sedangkan di Jakarta ada sekitar 40 dokter yang sudah bisa menangani operasi itu. (*/S-4)

Sumber:
http://www.stikom.edu/main.php?act=ber& ... amp;id=895

[ add comment ]   |  permalink  |   ( 0 / 0 )

Batu Empedu 
Sunday, April 18, 2010, 10:19 AM - Kesehatan
Posted by Administrator
Batu empedu adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu. Batu yang ditemukan di dalam kandung empedu disebut kolelitiasis, sedangkan batu di dalam saluran empedu disebut koledokolitiasis.

Penyebab
Komponen utama dari batu empedu adalah kolesterol, sebagian kecil lainnya terbentuk dari garam kalsium. Cairan empedu mengandung sejumlah besar kolesterol yang biasanya tetap berbentuk cairan. Jika cairan empedu menjadi jenuh karena kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan membentuk endapan di luar empedu.

Faktor Risiko
1. Batu empedu lebih banyak ditemukan pada wanita dan faktor risikonya adalah :
2. Usia lanjut.
3. Kegemukan (obesitas).
4. Diet tinggi lemak.
5. Faktor keturunan.

Patofisiologi
Sebagian besar batu empedu terbentuk di dalam kandung empedu dan sebagian besar batu di dalam saluran empedu berasal dari kandung empedu. Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami aliran balik karena adanya penyempitan saluran atau setelah dilakukan pengangkatan kandung empedu.

Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran empedu (kolangitis), infeksi pankreas (pankreatitis) atau infeksi hati. Jika saluran empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya.

Sebagian besar batu empedu dalam jangka waktu yang lama tidak menimbulkan gejala, terutama bila batu menetap di kandung empedu. Kadang-kadang batu yang besar secara bertahap akan mengikis dinding kandung empedu dan masuk ke usus halus atau usus besar, dan menyebabkan penyumbatan usus (ileus batu empedu).

Yang lebih sering terjadi adalah batu empedu keluar dari kandung empedu dan masuk ke dalam saluran empedu. Dari saluran empedu, batu empedu bisa masuk ke usus halus atau tetap berada di dalam saluran empedu tanpa menimbulkan gangguan aliran empedu maupun gejala.

Gejala dan Tanda
Jika batu empedu secara tiba-tiba menyumbat saluran empedu, maka penderita akan merasakan nyeri. Nyeri cenderung hilang-timbul dan dikenal sebagai nyeri kolik. Timbul secara perlahan dan mencapai puncaknya, kemudian berkurang secara bertahap. Nyeri bersifat tajam dan hilang-timbul, bisa berlangsung sampai beberapa jam. Lokasi nyeri berlainan, tetapi paling banyak dirasakan di perut atas sebelah kanan dan bisa menjalar ke bahu kanan.

Penderita seringkali merasakan mual dan muntah. Jika terjadi infeksi bersamaan dengan penyumbatan saluran, maka akan timbul demam, menggigil dan sakit kuning (jaundice). Biasanya penyumbatan bersifat sementara dan jarang terjadi infeksi.

Nyeri akibat penyumbatan saluran tidak dapat dibedakan dengan nyeri akibat penyumbatan kandung empedu. Penyumbatan menetap pada duktus sistikus menyebabkan terjadinya peradangan kandung empedu (kolesistitis akut). Batu empedu yang menyumbat duktus pankreatikus menyebabkan terjadinya peradangan pankreas (pankreatitis), nyeri, jaundice dan mungkin juga infeksi.

Kadang nyeri yang hilang-timbul kambuh kembali setelah kandung empedu diangkat, nyeri ini mungkin disebabkan oleh adanya batu empedu di dalam saluran empedu utama.

Komplikasi
Komplikasi yang mungkin segera terjadi adalah:
* Perdarahan
* Peradangan pankreas (pankreatitis).
* Perforasi atau infeksi saluran empedu.
Pada 2-6% penderita, saluran menciut kembali dan batu empedu muncul lagi.

Pencegahan
Karena komposisi terbesar batu empedu adalah kolesterol, sebaiknya menghindari makanan berkolesterol tinggi yang pada umumnya berasal dari lemak hewani.

Penatalaksanaan
Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeri yang hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau mengurangi makanan berlemak.

Batu kandung empedu
Jika batu kandung empedu menyebabkan serangan nyeri berulang meskipun telah dilakukan perubahan pola makan, maka dianjurkan untuk menjalani pengangkatan kandung empedu (kolesistektomi). Pengangkatan kandung empedu tidak menyebabkan kekurangan zat gizi dan setelah pembedahan tidak perlu dilakukan pembatasan makanan.

Kolesistektomi laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun 1990 dan sekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan secara laparoskopi. Kandung empedu diangkat melalui selang yang dimasukkan lewat sayatan kecil di dinding perut. Jenis pembedahan ini memiliki keuntungan sebagai berikut:
* Mengurangi rasa tidak nyaman pasca pembedahan.
* Memperpendek masa perawatan di rumah sakit.

Teknik lainnya untuk menghilangkan batu kandung empedu adalah:
* Pelarutan dengan metil-butil-eter.
* Pemecahan dengan gelombang suara (litotripsi).
* Pelarutan dengan terapi asam empedu menahun (asam kenodiol dan asam ursodeoksikolik).

Batu saluran empedu
batu saluran empedu bisa menyebabkan masalah yang serius, karena itu harus dikeluarkan baik melalui pembedahan perut maupun melalui suatu prosedur yang disebut endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP). Pada ERCP, suatu endoskop dimasukkan melalui mulut, kerongkongan, lambung dan ke dalam usus halus.

Zat kontras radioopak masuk ke dalam saluran empedu melalui sebuah selang di dalam sfingter oddi. Pada sfingterotomi, otot sfingter dibuka agak lebar sehingga batu empedu yang menyumbat saluran akan berpindah ke usus halus. ERCP dan sfingterotomi telah berhasil dilakukan pada 90% kasus. Kurang dari 4 dari setiap 1.000 penderita yang meninggal dan 3-7% mengalami komplikasi, sehingga prosedur ini lebih aman dibandingkan pembedahan perut. ERCP saja biasanya efektif dilakukan pada penderita batu saluran empedu yang lebih tua, yang kandung empedunya telah diangkat.

Sumber:
http://www.blogdokter.net/2007/03/08/batu-empedu/
Bedah Laparaskopi meluas ke organ lain 
Monday, April 19, 2010, 10:24 AM - Kesehatan
Posted by Administrator
KEMBANGAN teknologi telah mengantarkan dunia kedokteran, khususnya bedah, kepada efektivitas dan efisiensi. Teknik bedah minimal invasif laparoskopi, misalnya, menjadi alternatif dari bedah konvensional.

Awalnya bedah laparoskopi dilakukan untuk bedah digestif (bedah bagian perut dan saluran pencernaan). Namun, kasus penyakit yang paling sering ditangani dengan teknik itu adalah laparoscopic cholecystectomy (pengangkatan kantong empedu) dan laparoscopic appendectomy (pengangkatan usus buntu yang meradang). Selain itu, bedah laparoskopi juga bisa diterapkan untuk kasus perlengketan usus, tumor usus, obesitas, hernia, dan kelenjar getah bening.

Menurut spesialis bedah saluran cerna dr Errawan R Wiradisuria SpB(K)BD, penderita batu pada kantong empedu biasanya datang dengan keluhan dispepsia (mirip sakit mag), yakni perut kembung, sakit pada ulu hati yang menjalar ke punggung, banyak sendawa, dan banyak buang angin.

''Karena keluhan yang mirip sakit mag itu, pasien biasanya hanya minum obat mag. Namun jika gejalanya terjadi terus-menerus selama tiga bulan, walaupun sudah minum obat-obatan, biasanya pasien diperiksa lebih jauh dengan USG. Dari situ, baru akan ketahuan apakah ada batu pada kantong empedunya,'' kata dr Errawan pada media edukasi tentang bedah minimal invasif (bedah laparoskopi) di Rumah Sakit Internasional Bintaro Jakarta, beberapa waktu lalu.

Jika ada indikasi untuk operasi, lanjutnya, pasien akan dianjurkan untuk operasi, terutama bila memungkinkan operasi laparoskopi. Pasien pertama-pertama akan dijelaskan mengenai penyakitnya, prosedur pengoperasian, risiko, efek-efeknya, dan keuntungan-keuntungannya.

''Jika kondisi pasien ternyata tidak memungkinkan untuk dilakukan bedah laparoskopi, prosedur pengoperasian akan dikonversikan ke bedah konvensional. Konversi bisa terjadi karena dua hal. Pertama, karena riwayat penyakit pasien. Kedua, konversi yang tidak diduga yakni terjadi karena keadaan darurat.

Prosedur

Lebih lanjut, dokter yang bertugas di RS Internasional Bintaro itu menjelaskan prosedur praoperasi laparoskopi hampir sama dengan operasi konvensional. Pasien harus puasa empat hingga enam jam sebelumnya, dibuat banyak buang air besar agar ususnya kempis. Sebelum puasa pun pasien laparoskopi akan diberikan makanan cair atau bubur, makanan yang mudah diserap, tapi rendah sisa, untuk mengurangi jumlah kotoran di saluran cerna. Kemudian pasien akan dibius total.

''Setelah pasien tertidur, tindakan operasi pertama yang dilakukan membuat sayatan di bawah lipatan pusar sepanjang 10 mm, kemudian jarum veres disuntikkan untuk memasukkan gas CO2 sampai batas kira-kira 12-14 milimeter Hg. Dengan pemberian gas CO2 itu, perut pasien akan menggembung. Itu bertujuan agar usus tertekan ke bawah dan menciptakan ruang di dalam perut untuk pengoperasian,'' jelas dr Errawan.

Setelah perut terisi gas CO2, tambahnya, alat trocar dimasukkan. Alat itu seperti pipa dengan klep untuk akses kamera dan alat-alat lain selama pembedahan. Ada empat trocar yang dipasang di tubuh. Pertama, terletak di pusar. Kedua, kira-kira letaknya 2-4 cm dari tulang dada (antara dada dan pusar) selebar 5-10 mm. Trocar ketiga dipasang di pertengahan trocar kedua agak ke sebelah kanan (di bawah tulang iga), selebar 2-3 atau 5 mm. Trocar keempat, bilamana diperlukan, akan dipasang di sebelah kanan bawah, selebar 5 mm.

''Melalui trocar inilah alat-alat, seperti gunting, pisau ultrasonik, dan kamera, dimasukkan dan digerakkan. Trocar pertama berfungsi sebagai 'mata' dokter, yaitu tempat dimasukkannya kamera. Dokter akan melihat organ-organ tubuh kita dan bagian yang perlu dibuang melalui kamera tersebut yang disalurkan ke monitor. Sementara itu, trocar kedua sampai keempat merupakan trocar kerja,'' kata dr Errawan menjelaskan tayangan video yang merekam jalannya operasi pengangkatan batu empedu.

Dalam tayangan video itu pun terlihat bagaimana jarum untuk menjahit organ-organ yang dipotong atau mengalami pendarahan dimasukkan melalui trocar. Selain itu, ada pula klip-klip dari titanium, yang aman dan bisa digunakan sebagai ganti jahitan. Klip itu berfungsi menyambungkan dua bagian yang terpisah.

''Klip dari titanium akan dipasang dalam tubuh secara permanen, seumur hidup. Sebelumnya, kita harus mengatakan kepada pasien dan keluarganya kalau ada benda asing yang akan ditinggalkan di dalam tubuh pasien," jelas dr Errawan.

Bahkan bekas sobekan tersebut, tambahnya, tidak perlu dijahit, dan hanya menggunakan lem yang disebut human skin glue. Masa pulihnya pun lebih cepat, yaitu sekitar tiga hari, pasien sudah diperbolehkan pulang.

Risiko

Operasi laparoskopi, kata dr Errawan, biasanya berlangsung sekitar 20 menit sampai dua jam, tergantung tingkat kesulitan tiap orang. Adapun risiko yang mungkin terjadi ketika operasi berlangsung adalah perlengketan akibat infeksi yang berulang.

Infeksi bisa disebabkan pengobatan yang tidak tuntas sebelum operasi. Sementara itu, perlengketan berarti organ-organ yang menempel harus dipisahkan dan itu bisa mengakibatkan perdarahan.

''Risiko ini bisa berasal dari tiga pihak. Pertama pihak pasien yaitu adanya penyakit atau infeksi yang tidak ditangani secepatnya. Kedua dari pihak dokter yaitu kemampuannya menguasai teknik laparoskopi. Ketiga, faktor alat-alat, termasuk rumah sakit, apakah alat-alat itu sudah rusak atau lama.

Di hadapan para wartawan, dr Errawan mengatakan bedah laparoskopi sebetulnya sudah ada di Indonesia sejak 1991. Pembedahan pertama kali dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Cipto Mangunkusumo. Hingga saat ini, perkembangan alat-alat laparoskopi semakin maju, meliputi penggunaan monitor high definition yang membuat gambar tampak lebih jelas. Ada pula lampu kamera yang terang, tapi tidak panas. Alat pemotong yang digunakan adalah gunting atau pisau ultrasonik yang jika digunakan tidak akan menyebabkan perdarahan.

Soal biaya, ujarnya lagi, prosedur laparoskopi memang lebih mahal daripada bedah konvensional yakni bisa mencapai tiga kali lipat dari biaya bedah konvensional. Hal itu disebabkan teknologi dan alat-alat yang digunakan sudah lebih canggih dan hanya sekali pakai.

''Namun jika dihitung secara keseluruhan sampai biaya perawatan pascaoperasi, biaya yang dikeluarkan hampir sama. Perawatan pascabedah laparoskopi hanya dua sampai tiga hari, sedangkan pada bedah konvensional perawatan penyembuhan pascaoperasi bisa mencapai lima hari sampai seminggu. Ini yang membuat bedah laparoskopi lebih efektif,'' urainya.

Namun, kata dr Errawan, belum semua dokter bedah saluran cerna bisa melakukan prosedur bedah minimal invasif. Bahkan para dokter bedah harus mengikuti pelatihan khusus untuk bisa melakukan bedah laparoskopi. Hingga saat ini, sudah ada sekitar 80 dokter yang sudah bisa melakukan bedah laparoskopi di Indonesia, sedangkan di Jakarta ada sekitar 40 dokter yang sudah bisa menangani operasi itu. (*/S-4)

Sumber:
http://www.stikom.edu/main.php?act=ber& ... amp;id=895

[ add comment ]   |  permalink  |   ( 0 / 0 )

Batu Empedu 
Sunday, April 18, 2010, 10:19 AM - Kesehatan
Posted by Administrator
Batu empedu adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu. Batu yang ditemukan di dalam kandung empedu disebut kolelitiasis, sedangkan batu di dalam saluran empedu disebut koledokolitiasis.

Penyebab
Komponen utama dari batu empedu adalah kolesterol, sebagian kecil lainnya terbentuk dari garam kalsium. Cairan empedu mengandung sejumlah besar kolesterol yang biasanya tetap berbentuk cairan. Jika cairan empedu menjadi jenuh karena kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan membentuk endapan di luar empedu.

Faktor Risiko
1. Batu empedu lebih banyak ditemukan pada wanita dan faktor risikonya adalah :
2. Usia lanjut.
3. Kegemukan (obesitas).
4. Diet tinggi lemak.
5. Faktor keturunan.

Patofisiologi
Sebagian besar batu empedu terbentuk di dalam kandung empedu dan sebagian besar batu di dalam saluran empedu berasal dari kandung empedu. Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami aliran balik karena adanya penyempitan saluran atau setelah dilakukan pengangkatan kandung empedu.

Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran empedu (kolangitis), infeksi pankreas (pankreatitis) atau infeksi hati. Jika saluran empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam saluran. Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya.

Sebagian besar batu empedu dalam jangka waktu yang lama tidak menimbulkan gejala, terutama bila batu menetap di kandung empedu. Kadang-kadang batu yang besar secara bertahap akan mengikis dinding kandung empedu dan masuk ke usus halus atau usus besar, dan menyebabkan penyumbatan usus (ileus batu empedu).

Yang lebih sering terjadi adalah batu empedu keluar dari kandung empedu dan masuk ke dalam saluran empedu. Dari saluran empedu, batu empedu bisa masuk ke usus halus atau tetap berada di dalam saluran empedu tanpa menimbulkan gangguan aliran empedu maupun gejala.

Gejala dan Tanda
Jika batu empedu secara tiba-tiba menyumbat saluran empedu, maka penderita akan merasakan nyeri. Nyeri cenderung hilang-timbul dan dikenal sebagai nyeri kolik. Timbul secara perlahan dan mencapai puncaknya, kemudian berkurang secara bertahap. Nyeri bersifat tajam dan hilang-timbul, bisa berlangsung sampai beberapa jam. Lokasi nyeri berlainan, tetapi paling banyak dirasakan di perut atas sebelah kanan dan bisa menjalar ke bahu kanan.

Penderita seringkali merasakan mual dan muntah. Jika terjadi infeksi bersamaan dengan penyumbatan saluran, maka akan timbul demam, menggigil dan sakit kuning (jaundice). Biasanya penyumbatan bersifat sementara dan jarang terjadi infeksi.

Nyeri akibat penyumbatan saluran tidak dapat dibedakan dengan nyeri akibat penyumbatan kandung empedu. Penyumbatan menetap pada duktus sistikus menyebabkan terjadinya peradangan kandung empedu (kolesistitis akut). Batu empedu yang menyumbat duktus pankreatikus menyebabkan terjadinya peradangan pankreas (pankreatitis), nyeri, jaundice dan mungkin juga infeksi.

Kadang nyeri yang hilang-timbul kambuh kembali setelah kandung empedu diangkat, nyeri ini mungkin disebabkan oleh adanya batu empedu di dalam saluran empedu utama.

Komplikasi
Komplikasi yang mungkin segera terjadi adalah:
* Perdarahan
* Peradangan pankreas (pankreatitis).
* Perforasi atau infeksi saluran empedu.
Pada 2-6% penderita, saluran menciut kembali dan batu empedu muncul lagi.

Pencegahan
Karena komposisi terbesar batu empedu adalah kolesterol, sebaiknya menghindari makanan berkolesterol tinggi yang pada umumnya berasal dari lemak hewani.

Penatalaksanaan
Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeri yang hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau mengurangi makanan berlemak.

Batu kandung empedu
Jika batu kandung empedu menyebabkan serangan nyeri berulang meskipun telah dilakukan perubahan pola makan, maka dianjurkan untuk menjalani pengangkatan kandung empedu (kolesistektomi). Pengangkatan kandung empedu tidak menyebabkan kekurangan zat gizi dan setelah pembedahan tidak perlu dilakukan pembatasan makanan.

Kolesistektomi laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun 1990 dan sekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan secara laparoskopi. Kandung empedu diangkat melalui selang yang dimasukkan lewat sayatan kecil di dinding perut. Jenis pembedahan ini memiliki keuntungan sebagai berikut:
* Mengurangi rasa tidak nyaman pasca pembedahan.
* Memperpendek masa perawatan di rumah sakit.

Teknik lainnya untuk menghilangkan batu kandung empedu adalah:
* Pelarutan dengan metil-butil-eter.
* Pemecahan dengan gelombang suara (litotripsi).
* Pelarutan dengan terapi asam empedu menahun (asam kenodiol dan asam ursodeoksikolik).

Batu saluran empedu
batu saluran empedu bisa menyebabkan masalah yang serius, karena itu harus dikeluarkan baik melalui pembedahan perut maupun melalui suatu prosedur yang disebut endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP). Pada ERCP, suatu endoskop dimasukkan melalui mulut, kerongkongan, lambung dan ke dalam usus halus.

Zat kontras radioopak masuk ke dalam saluran empedu melalui sebuah selang di dalam sfingter oddi. Pada sfingterotomi, otot sfingter dibuka agak lebar sehingga batu empedu yang menyumbat saluran akan berpindah ke usus halus. ERCP dan sfingterotomi telah berhasil dilakukan pada 90% kasus. Kurang dari 4 dari setiap 1.000 penderita yang meninggal dan 3-7% mengalami komplikasi, sehingga prosedur ini lebih aman dibandingkan pembedahan perut. ERCP saja biasanya efektif dilakukan pada penderita batu saluran empedu yang lebih tua, yang kandung empedunya telah diangkat.

Sumber:
http://www.blogdokter.net/2007/03/08/batu-empedu/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar